Jangan pernah Menyesali apa yang telah terjadi. Buaran, 19 September 2010 18.50 Wib.
15 september, pagi itu saya terbangun oleh suara kokok ayam dan kicauan burung yang asik membelah udara menikmati cuaca segar nan alami. Sayapun langsung menuju kamar mandi buat melakukan aktifitas pembersiahan jasmani. Setelah kegiatan bersih-bersih jasmani selesai, sayapun menuju garasi tempat dimana motor saya tidur. Kemudian saya mulai menghidupkan sepeda motor dan memanaskannnya sekitar setengah jam. "Ayo sayang, lintas sumatera sudah menunggu kehadiran kita berdua" guman saya dalam hati. Setelah mesin motor saya panas, saya bergegas menuju warung orang tua saya. disana sudah menunggu ke dua orang tua, kakak serta adik-adik saya (tanpa kakak perempuan saya yang sedang berada di batam). "Bara bungkuih ka di baok nasi dal?" tanya ibu, "anam bungkuihlah ma" jawab saya. Kemudian saya dipanggil oleh ayah "kamarilah dal, ado ka ayah kecekan ka adal!" ujar ayah kepada saya, kitapun berbicara empat mata (maaf ini agak pribadi).
Setelah berbicara dengan ayah dan nasi bungkus bekal saya di perjalanan udah siap, saya mohon pamit kepada ke dua orang tua, kakak serta adik-adik saya. Tanpa saya sadari ke dua orang tua saya menitikkan air matanya, sayapun tidak kuat melihat tetesan air mata tersebut dan tanpa diminta mata sayapun mengeluarkan air matanya. Saya lalu memeluk ayah dan ibu saya, "ma jo ayah, adal barangkek dulu yo! doan se adal salamaik sampai ka jakarta" pinta saya kepada ke dua orang tua. Kemudian saya pamit sama kakak serta dua orang adik saya, lalu saya meletakkan tas serta bekal nasi buat perjalanan ke atas motor. Motor saya hidupkan, saya melihat ibu yang tanpa hentinya menitikkan air matanya yang bikin badan saya lemas. Saya kuatkan raga serta hati saya dan melaju sepeda motor tanpa melihat kebelakang karena tidak kuat melihat orang-orang yang sangat saya cintai menitikkan air matanya melepas kepergian saya.
Jam 10.15 wib Saya mulai menyusuri jalanan kota Payakumbuh dan menikmati suasana kota tempat di mana saya dilahirkan, " PAYOKUMBUUUAH, ADEN BARANGKEK DULU YOO" ujar saya dalam hati. Setelah berjalan sekitar 6 km, saya berhenti dan sekali lagi memandang kota Payakumbuh dari ketinggian jalanan kaki gunung sago. Saya menikmati pemandangan kampung saya serta hamparan sawah, bukit barisan dan hijaunya kampung saya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan motor saya yang sehari sebelumnya sudah diservice oleh sepupu saya, "kinilah ang bisa mambuktian bahwa ang mekanik handal, indak ka padang jalan den do tapi ka jawa. Sempat jebol onda den di tangah jalan, anti ang lai bukak bengke onda. rancak bukak bengke las ang lai!" gertak saya kepada sepupu sebelum motor saya diservicenya. Saya melanjutkan perjalanan dan menikmati suasana indah alam RANAH MINANG. Kemudian saya sms teman saya RSHAD BOUCHARI karena saya telah janji akan mampir di kampungnya, Sijunjung. Dia membalas sms saya dan mengatakan bahhwa dia lagi berada dalam perjalanan dari Jambi ke kampungnya dan saya batal mampir ke kampungnya. Sekitar pukul 14.00 wib Setelah berjalan sekitar 217 km, saya merasakan ada yang aneh pada motor saya. Saya berhenti di daerah sungai rumbai dan menelfon sepupu saya yang berjualan Ayam kentucky di prapatan tugu kota tersebut. setelah bertemu dengan sepupu dan memberitahukan tujuan saya, kemudian dia menyuruh saya ke bengkel buat ngecek kondisi sepeda motor saya. Setelah dicek oleh mekanik bengkel, dia mengatakan bahwa motor saya besok siang baru bisa selesai diperbaiki karena ada bagian mesin yang harus dibubut. Sayapun menginap di rumah sodara saya yang sedehana dengan seorang istri serta satu orang buah hatinya. Malam hari yang dingin di sungai rumbai, saya menikmati suasana daerah tersebut dengan berbaur dengan penduduk disana.
Esok harinya sekitar pukul 11.25 wib, saya ke bengkel dan motor saya sudah kelar diperbaiki. Setelah bertanya apakah motor saya sudah tidak ada gangguan lagi sama mekanik dan dijawab udah tidak ada apa-apa lagi sama mesin motor saya. Setelah membayar ongkos perbaikan motor, saya lalu menuju kediaman sepupu. Kemudian saya pamit dan berterima kasih sama sepupu karena sudah dibiarkan menginap di kediamannya, sayapun melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 14.00 wib, saya sudah memasuki propinsi Jambi. Sebelum kota Bangko di tengah-tengah hutan sawit, motor saya mogok lagi dan terpaksa saya mendorong sekitar 6 km hingga menemukan pemukiman penduduk. Setelah bertanya-tanya sama penduduk di mana bengkel yang buka karena hari sudah menunjukan pukul 17.45 wib, ternyata tidak ada bengkel sepeda motor di pemukiman tersebut. Kemudian datang seseorang menghampiri saya dan bertanya apa yang rusak sama motor saya, lalu saya menjawab tiba-tiba saja motor saya mati di tengah perjalanan. Kemudian orang tersebut mengotak-atik motor saya dan ternyata ada kabel yang putus di bagian bawah motor saya. Setelah diperbaiki sama orang tersebut dan kemudian motor saya hidup kembali, saya sangat senang. Saya memberikan uang ala kadarnya sama orang tersebut dan dia menolak pemberian saya mungkin karna tahu saya melakukan perjalanan yang sangat jauhh. "indak usah bang, saya ikhlas membantu dan abang klo di jalan nanti hati-hati di daerah muarorupit dan tabing tinggi karena daerah sana sangat rawan bajing loncat" ucapnya pada saya. "tarimo kasih bang udah perbaiki motor saya dan mengingatkan saya sama daerah rawan" balas saya. Kemudian saya pamit dan melanjutkan perjalanan hingga pukul 21.00 wib saya sampai di daerah Sorolangun.
Di kota inilah pikiran saya mulai berkecamuk antara istirahat atau melanjutkan perjalanan karena sesudah kota tersebut saya akan melewati daerah Muarorupit, Lubuk linggau, tebingtinggi dan lahat. Dua daerah rawan yang disebutkan oleh orang yang memperbaiki motor saya tadi sore ada di rute perjalanan saya kalo saya nekat melanjutkan perjalanan lagi. Pikiran saya mulai berkecamuk antara katakutan dan tantangan berjalan di malam hari melewati daerah yang sangat ditakuti oleh para pengendara mobil. Ketakutan saya adalah karena dua daerah tersebut sangat terkenal dengan bajing loncatnya dan tantangannya adalah kapan lagi saya melewati daerah rawan pada malam hari. Setelah berpikir sejenak, saya mengambil keputusan melanjutkan perjalanan dan berpikir inilah tantangan sebenarnya dari lintas tengah sumatera "Muara rupit dan Tebing Tinggi". Kemudian saya mengisi bensin full di spbu terdekat dan melanjutkan perjalanan. Setelah keluar dari kota Sorolangun di atas sepeda motor, ketakutan itu muncul lagi. Bajing loncat, dibunuh, dianiaya sama bajing loncat dan motor raib. Itulah isi otak saya hingga saya memasuki daerah Muara rupit, jalanan yang lurus serta kanan kirinya hutan dan perkebunan sawit. Saya melihat kebelakang yang sangat gelap gulita dengan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50 km per jam. Saya menghitung kendaraan yang lewat dan kendaraan yang lewat cuma 3 mobil yang berplat B dengan kecepatan yang sangat tinggi. "Apa yang akan terjadi, saya pasrah dan harus saya hadapi karena inilah keputusan saya" ucap saya dalam hati. Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya saya keluar juga dari daerah Muara rupit dan sampai di daerah Trawas. 1 jam kemudian saya masuk ke kota Lubuk Linggau dan berhenti sejenak di salah satu warung kopi, " udah jam 01.30, saatnya melanjutkan perjalanan kembali" pikir saya. "Hati-hati bang di daerah tebing Tinggi, sampai sekarang gembongnya belum ketangkap sama polisi" ucap pemilik warung kepada saya dan bikin ketakutan saya muncul lagi.
Setelah keluar dari daerah Lubuk Linggau, saya melewati daerah Muara Beliti dan akhirnya memasuki kawasan Tebing Tinggi yang jalanannya berliku diantara Hutan belantara yang sangat gelap. Ketakutan muncul lagi, dan tidak ada kendaraan yang lewat selama saya berada di tengah hutan tebing tinggi. "Pasti bisa dilewat, pasti bisa" ucap saya dalam hati.
Akhirnya saya melewati daerah Tebing Tinggi, Kemudian saya sampai di SPBU daerah Bungamas. Mengisi kembali bensin sepeda motor saya dan istirahat sejenak sembari melihat jam tangan yang menunjukkan waktu jam 04.30 wib. "sayang, Akhirnya kita bisa melewati daerah rawan pada malam hari" seloroh saya dalam hati sembari memandangi sepeda motor yang sangat saya sayangi. Setelah subuh, saya melanjutkan perjalanan kembali hingga memasuki kota Lahat, Sumatera selatan. Sekitar pukul 07.00 wib, saya berhenti di salah satu rumah makan di kota Lahat. Setelah parkir motor, dengan tas di punggung kemudian saya menuju kamar mandi rumah makan tersebut. Cuci muka, gosok gigi dan membersihkan kaki saya yang kotor oleh debu jalanan. Sehabis dari kamar mandi saya lalu menuju ke ruang makan buat sarapan pagi dan menikmati secangkir kopi hangat. Sehabis sarapan pagi, saya berencana mampir di kantor polisi terdekat buat istirahat setelah semalaman suntuk berjalan. Keluar dari rumah makan dan menuju parkiran motor, saya terdiam tidak percaya. Belalang tempur saya tidak ada lagi di parkirannya, kemudian saya bertanya-tanya kepada orang-orang yang berada di sekitar parkiran dan jawabannya tidak ada yang melihat motor saya. Saya termenung cukup lama memikirkan belalang tempur yang tidak tahu ke mana rimbanya, ada yang ngasih masukan kepada saya buat melaporkan hal ini ke kantor polisi. Belalang tempurku, motorku, tak pernah mengenal takut sama petugas jalanan ibukota hingga lintas sumatera, dimanakah dirimu? guman saya dalam hati. Setelah berpikir cukup lama, saya mengambil keputusan untuk tidak lapor ke kantor polisi dan mengikhlaskan belalang tempur saya hilang. Mungkin sampai disini kebersamaan saya bersama motor tercinta saya. 3 tahun bersama saya hidup di hingar bingar jalanan ibukota dan menghantam LINTAS TENGAH SUMATRA dalam perjalan mudik saya menuju kampung halaman JAKARTA - BONAI dan kembali mengarungi jalanan BONAI- JAKARTA walaupun tidak finish, cuma sampai LAHAT.
17 September 10.00 Wib, saya melanjutkan perjalan menuju Jakarta dengan naik bus. Masih di daerah Lahat, perjalanan saya dihantam cobaan lagi. Bus yang saya tumpai menyerempet anak kecil yang sedang menyeberang, untung saja orang-orang kampungnya tidak mengamuk dan masalahnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Dalam keadaan menunggu, saya berkenalan dengan seorang gadis ceria bernama iis. Kenapa gadis ceria? karena dia selalu bikin saya tertawa dengan banyolannya. Setelah 6 jam berlalu, akhirnya masalah bus yang nyerempet selesai juga. Perjalanapun dilanjutkan, Saya kembali memikirkan belalang tempur yang raib seraya berkata dalam hati "Belalang, Sayangi TempurKu".
Selama perjalanan di atas bus, cuma iis yang selalu bikin saya tertawa terbahak-bahak dengan banyolannya hingga kita kecapekan karena tertawa terus. Saya duduk di bangku cadangan bus alias di atas bangku plastik kecil, beruntung saya duduk di samping iis. Malam harinya, sayapun ngantuk berat tapi tidak bisa tidur karena setiap saya tidur dan bus mengerem, saya slalu terjungkal ke depan. Alhasil saya tidak memakai kursi plastik dan duduk di lantai bus, iis mempersilahkan saya menggunakan pahanya sebagai bantal kepala saya. Sayapun tertidur dengan pulas hingga bus berhenti subuh hari dan saya sangat terkejut ternyata posisi bantal saya berubah dari paha menjadi pantat iis. Kamipun menuju rumah makan, sayapun makan dan iis cuma pesan nasi bungkus karena kata dia belum lapar. Setelah subuh perjalananpun dilanjutkan hingga pukul 09.00 wib bus memasuki pelabuhan penyeberangan kapal ferry, Bakauheni. Saya dan iis keluar bus menuju ke atas kapal buat menikmati perjalanan laut.
Kapalpun mulai berlayar, saya kembali menatap daratan ujung sumatera, Bakauheni. Saya mengeluarkan dompet dan mengambil STNK belalang tempur saya sembari mengingat kenangan-kenangan indah bersama motor tercinta saya dan kemudian saya melempar STNK motor saya ke laut. "Selamat tinggal belalang tempur, bersamamu adalah kenangan indah yang takkan pernah kulupakan" ucap saya dalam hati. Kemudian saya menatap orang-orang yang asik berfoto-foto, bercanda dan tidur.
AYOOOOOOO ORANGGG KAAMPUUUUUNG, KITAA MACEEETKAAAN IBUKOTAAAA....



Tidak ada komentar:
Posting Komentar