Kamis, 23 September 2010

The Journey To HOPE Town "Belalang, Sayangi TempurKu"

Jangan pernah Menyesali apa yang telah terjadi. Buaran, 19 September 2010 18.50 Wib.

          15 september, pagi itu saya terbangun oleh suara kokok ayam dan kicauan burung yang asik membelah udara menikmati cuaca segar nan alami. Sayapun langsung menuju kamar mandi buat melakukan aktifitas pembersiahan jasmani. Setelah kegiatan bersih-bersih jasmani selesai, sayapun menuju garasi tempat dimana motor saya tidur. Kemudian saya mulai menghidupkan sepeda motor dan memanaskannnya sekitar setengah jam. "Ayo sayang, lintas sumatera sudah menunggu kehadiran kita berdua" guman saya dalam hati. Setelah mesin motor saya panas, saya bergegas menuju warung orang tua saya. disana sudah menunggu ke dua orang tua, kakak serta adik-adik saya (tanpa kakak perempuan saya yang sedang berada di batam). "Bara bungkuih ka di baok nasi dal?" tanya ibu, "anam bungkuihlah ma" jawab saya. Kemudian saya dipanggil oleh ayah "kamarilah dal, ado ka ayah kecekan ka adal!" ujar ayah kepada saya, kitapun berbicara empat mata (maaf ini agak pribadi).

         Setelah berbicara dengan ayah dan nasi bungkus bekal saya di perjalanan udah siap, saya mohon pamit kepada ke dua orang tua, kakak serta adik-adik saya. Tanpa saya sadari ke dua orang tua saya menitikkan air matanya, sayapun tidak kuat melihat tetesan air mata tersebut dan tanpa diminta mata sayapun mengeluarkan air matanya. Saya lalu memeluk ayah dan ibu saya, "ma jo ayah, adal barangkek dulu yo! doan se adal salamaik sampai ka jakarta" pinta saya kepada ke dua orang tua. Kemudian saya pamit sama kakak serta dua orang adik saya, lalu saya meletakkan tas serta bekal nasi buat perjalanan ke atas motor. Motor saya hidupkan, saya melihat ibu yang tanpa hentinya menitikkan air matanya yang bikin badan saya lemas. Saya kuatkan raga serta hati saya dan melaju sepeda motor tanpa melihat kebelakang karena tidak kuat melihat orang-orang yang sangat saya cintai menitikkan air matanya melepas kepergian saya. 

         Jam 10.15 wib  Saya mulai menyusuri jalanan kota Payakumbuh dan menikmati suasana kota tempat di mana saya dilahirkan, " PAYOKUMBUUUAH, ADEN BARANGKEK DULU YOO"  ujar saya dalam hati. Setelah berjalan sekitar 6 km, saya berhenti dan sekali lagi memandang kota Payakumbuh dari ketinggian jalanan kaki gunung sago. Saya menikmati pemandangan kampung saya serta hamparan sawah, bukit barisan dan hijaunya kampung saya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan motor saya yang sehari sebelumnya sudah diservice oleh sepupu saya, "kinilah ang bisa mambuktian bahwa ang mekanik handal, indak ka padang jalan den do tapi ka jawa. Sempat jebol onda den di tangah jalan, anti ang lai bukak bengke onda. rancak bukak bengke las ang lai!" gertak saya kepada sepupu  sebelum motor saya diservicenya. Saya melanjutkan perjalanan dan menikmati suasana indah alam RANAH MINANG. Kemudian saya sms teman saya RSHAD BOUCHARI karena saya telah janji akan mampir di kampungnya, Sijunjung. Dia membalas sms saya dan mengatakan bahhwa dia lagi berada dalam perjalanan dari Jambi ke kampungnya dan saya batal mampir ke kampungnya. Sekitar pukul 14.00 wib Setelah berjalan sekitar 217 km, saya merasakan ada yang aneh pada motor saya. Saya berhenti di daerah sungai rumbai dan menelfon sepupu saya yang berjualan Ayam kentucky di prapatan tugu kota tersebut. setelah bertemu dengan sepupu dan memberitahukan tujuan saya, kemudian dia menyuruh saya ke bengkel buat ngecek kondisi sepeda motor saya. Setelah dicek oleh mekanik bengkel, dia mengatakan bahwa motor saya besok siang baru bisa selesai diperbaiki karena ada bagian mesin yang harus dibubut. Sayapun menginap di rumah sodara saya yang sedehana dengan seorang istri serta satu orang buah hatinya. Malam hari yang dingin di sungai rumbai, saya menikmati suasana daerah tersebut dengan berbaur dengan penduduk disana.

          Esok harinya sekitar pukul 11.25 wib, saya ke bengkel dan motor saya sudah kelar diperbaiki. Setelah bertanya apakah motor saya sudah tidak ada gangguan lagi sama mekanik dan dijawab udah tidak ada apa-apa lagi sama mesin motor saya. Setelah membayar ongkos perbaikan motor, saya lalu menuju kediaman sepupu. Kemudian saya pamit dan berterima kasih sama sepupu karena sudah dibiarkan menginap di kediamannya, sayapun melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 14.00 wib, saya sudah memasuki propinsi Jambi. Sebelum kota Bangko di tengah-tengah hutan sawit, motor saya mogok lagi dan terpaksa saya mendorong sekitar 6 km hingga menemukan pemukiman penduduk. Setelah bertanya-tanya sama penduduk di mana bengkel yang buka karena hari sudah menunjukan pukul 17.45 wib, ternyata tidak ada bengkel sepeda motor di pemukiman tersebut. Kemudian datang seseorang menghampiri saya dan bertanya apa yang rusak sama motor saya, lalu saya menjawab tiba-tiba saja motor saya mati di tengah perjalanan. Kemudian orang tersebut mengotak-atik motor saya dan ternyata ada kabel yang putus di bagian bawah motor saya. Setelah diperbaiki sama orang tersebut dan kemudian motor saya hidup kembali, saya sangat senang. Saya memberikan uang ala kadarnya sama orang tersebut dan dia menolak pemberian saya mungkin karna tahu saya melakukan perjalanan yang sangat jauhh. "indak usah bang, saya ikhlas membantu dan abang klo di jalan nanti hati-hati di daerah muarorupit dan tabing tinggi karena daerah sana sangat rawan bajing loncat" ucapnya pada saya. "tarimo kasih bang udah perbaiki motor saya dan mengingatkan saya sama daerah rawan" balas saya. Kemudian saya pamit dan melanjutkan perjalanan hingga pukul 21.00 wib saya sampai di daerah Sorolangun.

            Di kota inilah pikiran saya mulai berkecamuk antara istirahat atau melanjutkan perjalanan karena sesudah kota tersebut saya akan melewati daerah Muarorupit, Lubuk linggau, tebingtinggi dan lahat. Dua daerah rawan yang disebutkan oleh orang yang memperbaiki motor saya tadi sore ada di rute perjalanan saya kalo saya nekat melanjutkan perjalanan lagi. Pikiran saya mulai berkecamuk antara katakutan dan tantangan berjalan di malam hari melewati daerah yang sangat ditakuti oleh para pengendara mobil. Ketakutan saya adalah karena dua daerah tersebut sangat terkenal dengan bajing loncatnya dan tantangannya adalah kapan lagi saya melewati daerah rawan pada malam hari. Setelah berpikir sejenak, saya mengambil keputusan melanjutkan perjalanan dan berpikir inilah tantangan sebenarnya dari lintas tengah sumatera "Muara rupit dan Tebing Tinggi". Kemudian saya mengisi bensin full di spbu terdekat dan melanjutkan perjalanan. Setelah keluar dari kota Sorolangun di atas sepeda motor, ketakutan itu muncul lagi. Bajing loncat, dibunuh, dianiaya sama bajing loncat dan motor raib. Itulah isi otak saya hingga saya memasuki daerah Muara rupit, jalanan yang lurus serta kanan kirinya hutan dan perkebunan sawit. Saya melihat kebelakang yang sangat gelap gulita dengan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50 km per jam. Saya menghitung kendaraan yang lewat dan kendaraan yang lewat cuma 3 mobil yang berplat B dengan kecepatan yang sangat tinggi. "Apa yang akan terjadi, saya pasrah dan harus saya hadapi karena inilah keputusan saya" ucap saya dalam hati. Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya saya keluar juga dari daerah Muara rupit dan sampai di daerah Trawas. 1 jam kemudian saya masuk ke kota Lubuk Linggau dan berhenti sejenak di salah satu warung kopi, " udah jam 01.30, saatnya melanjutkan perjalanan kembali" pikir saya. "Hati-hati bang di daerah tebing Tinggi, sampai sekarang gembongnya belum ketangkap sama polisi" ucap pemilik warung kepada saya dan bikin ketakutan saya muncul lagi.

         Setelah keluar dari daerah Lubuk Linggau, saya melewati daerah Muara Beliti dan akhirnya memasuki kawasan Tebing Tinggi yang jalanannya berliku diantara Hutan belantara yang sangat gelap. Ketakutan muncul lagi, dan tidak ada kendaraan yang lewat selama saya berada di tengah hutan tebing tinggi. "Pasti bisa dilewat, pasti bisa" ucap saya dalam hati. 

         Akhirnya saya melewati daerah Tebing Tinggi, Kemudian saya sampai di SPBU daerah Bungamas. Mengisi kembali bensin sepeda motor saya dan istirahat sejenak sembari melihat jam tangan yang menunjukkan waktu jam 04.30 wib. "sayang, Akhirnya kita bisa melewati daerah rawan pada malam hari" seloroh saya dalam hati sembari memandangi sepeda motor yang sangat saya sayangi. Setelah subuh, saya melanjutkan perjalanan kembali hingga memasuki kota Lahat, Sumatera selatan. Sekitar pukul 07.00 wib, saya berhenti di salah satu rumah makan di kota Lahat. Setelah parkir motor, dengan tas di punggung kemudian saya menuju kamar mandi rumah makan tersebut. Cuci muka, gosok gigi dan membersihkan kaki saya yang kotor oleh debu jalanan. Sehabis dari kamar mandi saya lalu menuju ke ruang makan buat sarapan pagi dan menikmati secangkir kopi hangat. Sehabis sarapan pagi, saya berencana mampir di kantor polisi terdekat buat istirahat setelah semalaman suntuk berjalan. Keluar dari rumah makan dan menuju parkiran motor, saya terdiam tidak percaya. Belalang tempur saya tidak ada lagi di parkirannya, kemudian saya bertanya-tanya kepada orang-orang yang berada di sekitar parkiran dan jawabannya tidak ada yang melihat motor saya. Saya termenung cukup lama memikirkan belalang tempur yang tidak tahu ke mana rimbanya, ada yang ngasih masukan kepada saya buat melaporkan hal ini ke kantor polisi. Belalang tempurku, motorku, tak pernah mengenal takut sama petugas jalanan ibukota hingga lintas sumatera, dimanakah dirimu? guman saya dalam hati. Setelah berpikir cukup lama, saya mengambil keputusan untuk tidak lapor ke kantor polisi dan mengikhlaskan belalang tempur saya hilang. Mungkin sampai disini kebersamaan saya bersama motor tercinta saya. 3 tahun bersama saya hidup di hingar bingar jalanan ibukota dan menghantam LINTAS TENGAH SUMATRA dalam perjalan mudik saya menuju kampung halaman JAKARTA - BONAI dan kembali mengarungi jalanan BONAI- JAKARTA walaupun tidak finish, cuma sampai LAHAT.

           17 September 10.00 Wib, saya melanjutkan perjalan menuju Jakarta dengan naik bus. Masih di daerah Lahat, perjalanan saya dihantam cobaan lagi. Bus yang saya tumpai menyerempet anak kecil yang sedang menyeberang, untung saja orang-orang kampungnya tidak mengamuk dan masalahnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Dalam keadaan menunggu, saya berkenalan dengan seorang gadis ceria bernama iis. Kenapa gadis ceria? karena dia selalu bikin saya tertawa dengan banyolannya. Setelah 6 jam berlalu, akhirnya masalah bus yang nyerempet selesai juga. Perjalanapun dilanjutkan, Saya kembali memikirkan belalang tempur yang raib seraya berkata dalam hati "Belalang, Sayangi TempurKu".

Selama perjalanan di atas bus, cuma iis yang selalu bikin saya tertawa terbahak-bahak dengan banyolannya hingga kita kecapekan karena tertawa terus. Saya duduk di bangku cadangan bus alias di atas bangku plastik kecil, beruntung saya duduk di samping iis. Malam harinya, sayapun ngantuk berat tapi tidak bisa tidur karena setiap saya tidur dan bus mengerem, saya slalu terjungkal ke depan. Alhasil saya tidak memakai kursi plastik dan duduk di lantai bus, iis mempersilahkan saya menggunakan pahanya sebagai bantal kepala saya. Sayapun tertidur dengan pulas hingga bus berhenti subuh hari dan saya sangat terkejut ternyata posisi bantal saya berubah dari paha menjadi pantat iis. Kamipun menuju rumah makan, sayapun makan dan iis cuma pesan nasi bungkus karena kata dia belum lapar. Setelah subuh perjalananpun dilanjutkan hingga pukul 09.00 wib bus memasuki pelabuhan penyeberangan kapal ferry, Bakauheni. Saya dan iis keluar bus menuju ke atas kapal buat menikmati perjalanan laut.

              Kapalpun mulai berlayar, saya kembali menatap daratan ujung sumatera, Bakauheni. Saya mengeluarkan dompet dan mengambil STNK belalang tempur saya sembari mengingat kenangan-kenangan indah bersama motor tercinta saya dan kemudian saya melempar STNK motor saya ke laut. "Selamat tinggal belalang tempur, bersamamu adalah kenangan indah yang takkan pernah kulupakan" ucap saya dalam hati. Kemudian saya menatap orang-orang yang asik berfoto-foto, bercanda dan tidur. 

                AYOOOOOOO ORANGGG KAAMPUUUUUNG, KITAA MACEEETKAAAN IBUKOTAAAA....

THE JOURNEY to BONAI "GILA itu BAHAGIA"





                 KATAKUTAN SEBELUM MELAKUKAN itu sama saja bunuh diri secara perlahan-lahan.... BONAI, 02.52 WIB 14 September 2010. 

                 3 HARI 2 MALAM, 62 JAM, 5 PROPINSI.

                 JAKARTA-BONAI SUDAH SAYA RENCANAKAN DARI 2 TAHUN YANG LALU DAN SEKARANG TERCAPAI.

              SUARU HARI NANTI, SAYA YAKIN AKAN MEMELUK MIMPI KELILING INDONESIA DENGAN MOTOR DENGAN DURASI WAKTU 1 TAHUN.


               MARI SAYANG. KITA HANTAM LINTAS SUMATERA.  

               Dasar gila, gila, gila dan gila. Itulah komentar yang saya dapatkan dari orang-orang yang tahu bahwa saya melakukan perjalanan mudik jakarta - payakumbuh dengan motor astrea grand 96. Apa itu gila? karna setahu saya gila itu adalah orang-orang merdeka dari segala macam tetek bengek kehidupan yang fana ini.

        Tanggal 8 september jam 00.30 WIB saya menghidupkan mesin motor buat satu tujuan yang telah saya rencanakan 2 tahun yang lalu, BERCINTA dengan LINTAS SUMATERA. Bermodal Peta, kunci busi  (tanpa bawa busi cadangan), uang (udah pastilah sob) dan semangat menggebu-gebu yakin bahwa saya bisa menaklukan jakarta - payakumbuh dengan belalang tempur (terinspirasi dari SATRIA BAJA HITAM RX). Perjalananpun saya mulai dengan minta izin dulu sama orang-orang dasyat yang pernah saya temui "andibachtiar yusuf, kamerad edmond, cemonkfais, arista budiyono dan anggah", mereka sangat mendukung perjalan yang akan saya lakukan.

         Dengan perjalanan santai, saya mulai menyusuri ibukota, tangerang dan mampir di sebuah warung pecel lele yang berada di depan sebuah pabrik d kota serang. Setelah makan saya ditanyai oleh seorang pegawai pabrik "mo mudik ke mana mas?" tanya pegawai tadi, "mo mudik ke PADANG mas." jawab saya. Kontan dia dan teman-temannya terkejut sembari ngeliat dandanan motor saya yang caur abis, "beneran bisa sampe tu motor ke padang mas?". "doain aja mas, saya bisa nyampe d kampung halaman" jawab saya. Setelah membayar makan dan saya melihat jam udah menunjukan pukul 03.15 WIB "saatnya melanjutkan perjalanan yang masih panjang" pikir saya. Setelah saya menghidupkan motor dan ternyata kunci stang motor saya macet nggak mau dibuka. Alih-alih saya saya mencoba memperbaikinya, saya disamperi oleh mas-mas pegawai pabrik tadi "ada apaan mas?", "nggak tahu nih, tiba-tiba aja kunci stang motor saya macet" jawab saya. Spontan mereka beramai-ramai ngrubutin motor saya, mereka mulai mengotak atik stang motor saya hingga kembali normal dan saya cuma berdiri melihat saja. "inilaha awal kebahagiaan perjalanan ini dimulai" ucap saya dalam hati.

       Kira-kira pukul 04.00 saya sudah sampai d pelabuhan merak dan mulai mengantri untuk pembayaran tiket nyebrang dengan kapal ferry. Melihat ratusan pengendara motor yang yang diantaranya membawa barang-barang buat oleh-oleh, ada yang bawa anak yang masih balita, ada yang berpasangan demi satu tujuan, PULANG KAMPUNG. Setelah 1 stengah jam lebih mengantri, bayar tiket kapal ferry dan akhirnya saya bisa masuk ke dalam dek kapal bersama ratusan pengendara motor lainnya. Tangisan para balita mulai terdengar karena hawa panas dan asap kendaraan, kasihan itulah kata yang tepat buat para balita-balita yang dijajah orang tuanya buat pulang kampung atau mudik. Setelah parkir saya naik ke atas kapal dengan harapan mudah-mudahan ada orang padang yang pulang naik motor, supaya saya ada teman di jalan. Sayapun berputar mengelilingi kapal ferry yang dipenuhi oleh orang-orang yang rindu kampung. Saya mulai mencari-cari keberadaan orang padang dan hasil yang saya dapatkan cumo nol besar. "tidak ada satupun orang padang yang naik motor buat mudik" ucap saya, sayapun berkenalan dengan orang-orang yang tujuannya ke lampung dan sumatera selatan. Beberapa menit ngobrol sayapun merasakan ngantuk yang tak tertolongkan dan akhirnya pingsan dengan selamat. 

        Pukul 09.00 WIB kurang kapal sudah merapat di dermaga bakauheni, saya dibangunkan oleh para pemudik bahwa sebentar lagi kita keluar kapal. Saya bangun dan menatap dataran sumatera "AYO SAYANG, SAATNYA KITA BERCINTA DENGAN LINTAS SUMATERA" ucap saya dalam hati buat motor tercinta saya. Keluar dari kapal sayapun spontan berteriak "BOOOONAIII, TUNGGUUU GUEEE!". Perjalanan santaipun saya jalani, hingga akhirnya saya sampai di kota bandar lampung. Setelah saya makan dan merokok, sayapun melanjutkan perjalanan. Pukul 14.00 WIB saya berhenti berjalan karena hari sudah mau hujan, mampir di bengkel motor bersama-sama para pemudik motor buat berteduh dari hujan yang disertai angin kencang. Kira-kira pukul 18.00 WIB dari hujan hingga gerimispun berhenti, saya melanjutkan perjalanan.

        Pukul 22.15 WIB sebelum perbatasan lampung dan sumatera selatan saya mampir di kantor polisi buat menginap, "malam pak, saya mudik dan numpang nginap ya pak" kata saya sama pak polisi jaga. "silahkan mas, tidur di kursi panjang itu aja" kata pak polisi sembari menunjuk kursi pingsan saya. "Numpang ke kamar mandi pak?" tanya saya, "silahkan mas, Kamar mandinya ada di belakang" kata pak polisi sembari menunjuk arah kamar mandi yang saya lihat sangat gelap karena tidak ada lampu. Saya berjalan ke arah kamar mandi sembari menghidupkan handphone supaya agak lebih terang, asik-asik nyari kamar mandi saya terkejut setengah mati! Ada kepala nongol dari balik kamar yang berjeruji besi yang ternyata ruangan tahanan, " kampreet" lirih saya dalam hati. Ternyata kamar mandi berada di sebelah ruang tahanan, setelah itu saya langsung menuju kursi panjang tempat saya pingsan. "mau mudik ke mana mas?" tanya pak polisi, "ke padang pak." Langsung aja pak polisi ngoceh nggak karuan,"yang benar aja, mudik pakai motor kayak gitu ke padang" oceh pak polisi. Saya cuek aja dan langsung pingsan menuju alam mimpi.

       9 september,  Pagi-pagi bukannya saya bangun malah dibangunin sama pak polisi "mas, mas udah jam stengah 8 mas!" sayapun terbangun dan pergi ke kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi. Saya baru sadar setelah melihat keadaan di luar sana dan ternyata kantor pilisnya berada di tengah-tengah hutan karet dan sawit. Setelah saya balik dari kamar mandi ternyata sudah ada pak polisi berdatangan dan ngomongin saya dan motor. "Gila nih orang, naik motor kayak gini ke padang" oceh pak polisi, karena bosan sama ocek pak polisi akhirnya saya angkat bicara "Pak, belanda berbulan-bulan naik kapal dari eropa sana ke indonesia buat ngejajah kita, sedikitpun kita tidak pernah bilang belanda gila. ini saya di negara sendiri bapak bilang saya gila!" ucap saya. Pak polisi diam sejenak dan berkata "iya, ya. mudah-mudahan kamu selamat sampai di kampung kamu." Amin, amin, amin ucap saya dalam hati.

        Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih sama pak polisi, sayapun melanjutkan perjalanan. Sesampai di kota Baturaja saya kira-kira pukul 10.00 WIB saya mampir ke warung makan dan mulai bertanya di mana daerah rawan bajing loncat atau bahasa gaulnya "begal". Tebing tinggi, muararupit adalah daerah yang paling rawan bajing loncat, kata pemilik warung tersebut. Jangan pakai helm, masker, tas tarok di depan dan jangan pake sepatu (kudu pake sendal) adalah cara aman supaya tidak kena begal kata pemilik warung tersebut. Sayapun mengikuti kata pemilik warung dan mulai berjalan menyusuri lintas tengah sumatera dengan berbagai macam lukisan hidup yang ditangkap oleh kedua mata saya. Bermotor, mampir di warung buat makan dan bertanya-tanya di mana saja daerah rawan yang akan saya lewati hingga sampai di perbatasan jambi - sumatera barat. karena saya sudah merasa melewati jalur rawan, sayapun bermotor hingga tengah malam dan akhirnya sampai di pos ketupat polisi di daerah sebelum kota bangko. Saya pun mampir karena udah kecapekan, "malam pak" ucap saya kepada pak polisi yang sedang bertugas di pos tersebut. "Malam" ucap pak polisi kompak, "dari mana dan mau ke mana pak?" tanya polisi. "Dari jakarta hendak ke padang pak" ucap saya, spontan pak polisi terkejut sama kayak sewaktu saya menginap di kantor polisi sebelumnya. Merekapun memperhatikan motor saya yang caur habis, "gila juga kamu pakai motor ginian pulang kampung dari jakarta" ucap salah seorang pak polisi. Gila kamu, emang gila kamu, dasar gila kamu itulah komentar yang saya dapatkan dari pak polisi yang jaga di pos tersebut. Sayapun dikasih sekaleng botol pocari sweet dan semangkok mie rebus panas plus telor. Seumur-umur baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh polisi pikir saya dalam hati.

      10 September,  Setelah salah seorang Komandan polisinya balik pulang, pak polisi lainnya mengeluarkan batu domino dan sekantong plastik minuman tradisional, TUAK. "ayo kita main domino dan ngetuak dulu." ajak salah seorang polisi yang saya baru inisial namanya SM. Lagi asik main domino pak polisi bertanya "surat motor kamu lengkap nggak?" sayapun menjawab "STNK ada, pajak mati dan saya tidak ada SIM." pak polisi tertawa-tawa mendengar jawaban saya, "dasar gila kamu, kok kamu jujur ngomongnya?" tanya SM. "Daripada saya bohong ntar saya kena tilang dan tidak bisa pulang kampung" jawab saya dan pak polisi tertawa terbahak-bahak. Pukul 02.15 WIB setelah main domino dan sedikit tegukan tuak, saya minta izin buat ngelanjutin perjalanan, sayapun bersalaman dengan para pak polisi. Saya menghidupkan sepeda motor dan ternyata tidak mau hidup. "Kenapa?" tanya SM. "nggak tau nih kok tiba-tiba tidak mau hisup nih motor" jawab saya. "Mana sini saya bantu" setelah diotak atik sama SM ternyata busi saya sudah rusak. "Ini businya rusak, mana busi cadangan kamu?" "tidak ada pak" jawab saya. Tanpa pikir panjang pak polisi yang berinisial SM tersebut mengajak temannya buat nyari busi di tengah pagi hari buta, tunggu kamu disini kata SM sama saya. Stelah stengah jam berlalu baru SM sama temannya sampai bawa busi buat motor saya. Setelah dipasang businya giliran karburatornya yang rusak, saya sebenarnya tidak mengerti mesin. SM bersama teman polisinya juga tidak tinggal diam, mereka membantu buat baikin motor saya hingga akhirnya hidup. Saya cuma melihat saja tanpa membantu mereka buat betulin motor saya "Tengkyuuuu GOD kau telah membantu saya lewat pak polisi-polisi yang baik hati ini" ucap saya lirih di dalam hati. "waduh pak, pakai apaan saya bisa membalas kebaikan bapak ini?" tanya saya. "Sebenarnya saya menginginkan kaos yang kamu pakai!" ucap SM sama saya dan tanpa pikir panjang saya melepaskan kaos yang saya pakai (MENYESAL JADI ORANG INDONESIA) dan membuka tas buat mengambil kaos satunya lagi buat temannya (kaos SPARTACK'S). Semoga kamu selamat swampai d kampung kamu dan ntar kalo balik jangan lupa mampir lagi di sini ucap SM sama saya, kita pun bertukaran nomor handphone dan bersalaman. "Inilah kebahagiaan yang saya dapatkan di pos polisi sebelum kota bangko" ucap saya dalam hati. Sayapun melanjutkan perjalanan.

       Pukul 06.00 WIB saya sampai di kota Muarobungo, menikmati sarapan pagi dan ngopi. Saya tidak tahu kenapa mata ini kok belum ngantuk juga tapi semangat menggebu-gebu cepat sampai d kampung yang saya rasakan. Stelah sarapan dan ngopi saya melanjutkan perjalanan hingga melewati perbatasan jambi - sumatera barat, di tengah-tengah perjalanan saya berdiri diatas motor dan berteriak sangat kencang "RANAH MINANG, ADEEEEEN TIBOOOO...". Suara takbiran bersenandung dari kampung ke kampung yang saya lewati, akhirnya lebaran juga. Sayapun berhenti di salah mesjid di kota rumbai buat melakukan sholat id, setelah sholat saya melakukan perjalanan sembari mencari-cari berharap ada toko oli yang buka. akhirnya di Gunung medan baru saya mendapatkan ada toko oli yang buka, sayapun menambahkan oli mesin pada motor saya. 







Add caption
         Perjalanan yang penuh warna yang saya jalani sampai di kota sijunjung dan mampir ke rumah salah seorang teman yang saya kenal setahun yang lalu tapi belom pernah ketemu, karena kenalnya lewat pesbuk dan berkomunikasi cuma di pesbuk saja. akhirnya saya bertemu yang nama pesbuknya RSHAD BOUCHARI, berslaman dan cerita-cerita panjang lebar plus nggak lupa ritual SELAMAT DATANG DI RANAH MINANG, BAKARRR.... Kitapun bertukar kaos, saya dapat kaos SPARTACK'S desain rshad dan sayapun ngasih kaos yang bertuliskan I FUCK BETTER THAN ARIEL. Setelah asik bercengkrama sayapun pamit sama Rshad, ternyata motor saya tidak bisa dihidupkan lagi alias mati total. Rshadpun menawarkan saya supaya motor saya dinaikan ke atas mobil bak dan dianter ke payakumbuh sama dia. "Saya dari jakarta sampai sijunjung pakai motor, skarang saya dari sijunjung ke payakumbuh naik mobil bak. Saya tidak akan menyerah, tolong carikan bengkel sampai besok pun bakalan saya tungguin nih motor hidup kembali dan saya tidak mau kalah di finish." ucap saya sama Rshad. "baiklah, saya akan minta tolong sama saudara saya yang orang bengkel buat betulin motor kawan" ucap Rshad kepada saya. Motor sayapun dimasukkan ke bengkel buat diperbaiki, karena udah jam 12.00 WIB Rshad minta izin sama saya karena dia mau sholat jumat. Dan yang lebih gobloknya lagi, dia memakai kaos yangh saya kasih buat jumatan, sayapun cuma bisa ketawa melihat dia jumatan pake kaos saya. Setelah Rshad balik jumatan, saya diajakin sama dia buat makan siang di rumahnya. Saya makan dengan lahap karena lauknya RENDANG yang sangat enak, setelah makan kamipun balik ke bengkel dan akhirnya jam 2 an motor saya hidup kembali. Saya sangat merasa senang akhirnya saya bisa melakukan perjalanan finish JAKARTA-BONAI.

         Sekitar Pukul 16.00 WIB saya sampai di daerah  labuah silang, Payakumbuh. Saya kembali berdiri di atas motor dan berteriak PAYOOOKUMBUAAAAHHH.... ADEEEENNN TIBOOOO....